Ibu Kota Baru: Merajut Asa Menuju Tanah Borneo

Andai tuanku Fatahillah masih hidup, tersayatlah hatinya. Kota yang diperjuangkan 492 tahun silam, kini dirundung kemalangan. Entahlah. Terlalu banyak untuk disebut. Tunggulah sejenak! Akan kumulai pada bait berikut.

Apakah tuanku pernah sangka? Jayakartamu dulu telah menjadi metropolitan. Gedung-gedung tegak menjulang, membuat sesak kehidupan. Jangankan manusia, tumbuhan pun sulit untuk bertahan. Mungkin juga ia enggan berebut ruang dan lahan.

Tahukah tuan? Belum lama ini, Jakarta menderita. Kualitas udaranya menjadi yang terburuk di dunia. Indra pencium dipaksa tertutup. Dari yang menggunakan kain ala kadar hingga masker berstandar.

Seakan tak habis diceritakan. Jakarta yang sekarang bertransformasi menjadi kutub Indonesia. Eksodus besar-besaran membuatnya over muatan. Kemacetan bagaikan sarapan hingga teman seperjalanan. Namun tuanku, dari semua ini ada satu yang paling kutakutkan. Kota ini hanya menyisakan kenangan. Sebab ia bersembunyi di bawah lautan.

***

Nukilan di atas menggambarkan kompleksitas permasalahan yang dihadapi Kota Jakarta. Dikatakan kompleks karena mengakibatkan persoalan yang multi-dimensional. Ditambah tata kelola kota yang buruk. Atas kondisi tersebut, Presiden Jokowi berencana memindahkan ibu kota negara menuju tanah Borneo (julukan Pulau Kalimantan).

Mendesaknya pemindahan ibu kota negara dilatar-belakangi beberapa alasan mendasar. Alasan tersebut dapat dicermati dalam gambar di bawah ini.

Alasan semakin realistis manakala menilik kondisi existing di berbagai wilayah Indonesia, khususnya bagian Timur. Ketimpangan sosial, ekonomi, pembangunan, hingga pendidikan masih sangat kuat dirasakan. Dari segala aspek, jauh tertinggal dibandingkan dengan Pulau Jawa. Sebuah ironi, karena wilayah Timur dianugerahi kekayaan alam yang melimpah. Untuk itu, rencana ini patut untuk diperjuangkan dan direalisasikan.

Adanya ibu kota baru pastinya membawa harapan baru. Harapan yang akan berujung pada peradaban yang maju. Paling tidak itulah yang ada dibenak penulis selaku pendukung kebijakan ini. Lalu apa saja harapan-harapan dibalik ibu kota baru ini? Yuk kita ulas satu-persatu!

Ya, ibarat anak zaman now “jangan wacana forever“.

Pasca kemerdekaan, sudah 62 tahun wacana ini bergulir sejak tahun 1957. Tapi sampai sekarang tak pernah terealisasi. Oleh karena itu, kajian Tim Visi Indonesia 2023 dan Bappenas RI harus menjadi pijakan awal untuk membangun komitmen bersama. Komitmen dalam rangka membangun peradaban yang maju sekaligus menyelamatkan keberlangsungan Kota Jakarta.

Hampir semua menyepakati, pembangunan yang terjadi masih bersifat Javasentris. Data pertumbuhan ekonomi di setiap daerah juga menunjukkan hal yang sama. Sejatinya agenda membangun negeri dari pinggiran menjadi pondasi awal untuk menghilangkan paradigma ini.

Terlebih apabila ibu kota negara dipindahkan ke Kalimantan. Secara geografis, akan menghadirkan Indonesia di semua lapisan, baik Barat, Tengah, maupun Timur. Artinya dengan pemindahan ini akan melahirkan paradigma baru berupa indosentris.

Suatu cita-cita bersama untuk menjadikan ibu kota negara dimiliki bersama bangsa Indonesia. Dengan begitu, pastinya akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang dibarengi percepatan aksesibilitas wilayah.

Semrawut-nya Kota Jakarta diakibatkan tata kelola yang buruk. Sudah pasti hal ini harus menjadi pelajaran. Berbagai mis-manajemen di Jakarta sepatutnya tidak dibawa ke ibu kota yang baru.

Apalagi Kalimantan berfungsi sebagai paru-paru dunia. Tata kelola ruang dan wilayah menjadi penting untuk menghindari degradasi fungsi dan luas hutan yang ada. Maka perlu dipadukan antara lingkungan hijau dengan pengembangan kota mendatang.

Salah satu persoalan klasik Indonesia adalah masalah pengangguran. Meskipun jumlahnya mengalami tren penurunan, semestinya proyek mega ini tetap diarahkan untuk menyerap tenaga kerja lokal. Tidak sampai di situ, ke depan juga mampu menunjang kesejahteraan bagi masyarakat sekitar, khususnya dalam hal penghidupan yang layak.

Terakhir, pemindahan ibu kota sejatinya berdampak pada Kota Jakarta. Pemisahan antara pusat pemerintahan dan pusat bisnis akan mengurangi beban yang ditanggung oleh kota berpenghuni 10,2 juta ini. Pasalnya sejak ditetapkan ibu kota negara, DKI Jakarta mengemban kedua peran tersebut secara bersamaan.

Selain itu, pemindahan juga akan mampu mengurangi daya tarik urbanisasi di Kota Jakarta. Suatu keniscayaan bahwa kemacetan dan polusi udara akan berangsur membaik. Penurunan daya dukung lingkungan juga bisa dihambat. Meskipun hal itu perlu ditindaklanjuti melalui kebijakan-kebijakan riil, khususnya dari Pemprov DKI Jakarta.

Pemindahan ibu kota bukan menyoal bangunan fisik semata, tetapi kultur dan cara pandang juga harus diubah. Sehingga pemindahan ini tidak sebatas meninggalkan Jakarta yang di ambang batas. Tetapi harus memiliki visi bagaimana Jakarta dan ibu kota baru untuk 10 tahun, 100 tahun, atau bahkan selama Indonesia berdiri.

Yang paling penting, perlu juga diingat bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. Artinya dimensi hukum harus menjadi perhatian serius dalam agenda besar ini. Perlu juga dipikirkan desain ibu kota yang baru, apakah akan diberi keistimewaan layaknya Jakarta. Lalu bagaimana dengan status Jakarta di masa mendatang?

Dari sini dapat disimpulkan bahwa pemindahan ibu kota tidak menyangkut ekonomi, pemerintahan, bangunan fisik semata, tetapi seluruh aspek kehidupan. Dengan demikian, rencana pemindahan perlu pertimbangan bersama, bukan hanya Presiden, bukan hanya DPR-DPD, tetapi seluruh bangsa Indonesia. Jika tidak, hanya akan menjadi “oase di tengah gurun pasir”. Memberikan harapan yang semu, masalah baru yang ditemu.

***

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Nasional Artikel & Vlog “Harapanmu untuk Ibu Kota Baru” yang diselenggarakan oleh Kementerian PPN/Bappenas RI dan berhasil mendapatkan Juara I.

Referensi:

  1. Fitra Moerat Ramadhan. 18 Mei 2019. “Berikut Alasan dan Syarat Pemindahan Ibu Kota Negara” diakses dari Tempo.co.
  2. Bappenas RI. 26 Juni 2019. Dampak Ekonomi dan Skema Pembiayaan Pemindahan Ibu Kota Negara, dalam Dialog Nasional II.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s